Implementasi Sistem IoT Petani (Si-Tani)
Program Kolaborasi
Project Sosial Masyarakat
Celebes Research Group
Project information
Desa Tarengge, terletak di Kecamatan Wotu, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan,mencakup wilayah seluas 9,14 km2 dan terdiri dari 4 dusun, yaitu Dusun Tarengge, Dusun Segitiga Emas, Dusun Lawani, dan Dusun Madani. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Desa Tarengge mencapai 1717 jiwa, dengan kepadatan penduduk sekitar 188 jiwa per km2. Desa ini terletak pada ketinggian sekitar 75 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan berjarak sekitar 44 km dari pusat Kota Malili. Desa Tarengge memiliki peran penting sebagai salah satu dari 17 desa di Kecamatan Wotu Kondisi geografis Desa Tarengge didukung oleh curah hujan dan kelembapan yang baik, serta jenis tanah yang subur. Sebagai hasilnya, mayoritas masyarakat terlibat dalam sektor pertanian. Seiring dengan pertumbuhan penduduk yang meningkat setiap tahun, seperti yang dicatat oleh Badan Pusat Statistik pada tahun 2021, kebutuhan pokok seperti pangan juga meningkat. Oleh karena itu, peran petani di Desa Tarengge menjadi sangat vital dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Pertumbuhan penduduk yang pesat menunjukkan bahwa upaya peningkatan produksi pertanian dan ketahanan pangan menjadi aspek krusial dalam pembangunan dan kesejahteraan Desa Tarengge.Di Desa Tarengge, terdapat sebuah kelompok petani desa yang dikenal sebagai Kelompok Tani Rakyat (KTR). Kelompok ini masih menjalankan metode pertanian tradisional dan menggunakan pupuk kimia, yang sebenarnya tidak ramah lingkungan dan harganya relatif mahal. Mereka menanam tanaman jagung dan cabai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, berdasarkan hasil pengamatan, kelompok tani ini selama tiga tahun terakhir terus mengalami kegagalan panen karena musim kemarau dan kesulitan mendapatkan pupuk tanaman akibat kenaikan harga. Kelompok petani ini juga menyatakan keluhan terkait keharusan menyiram tanaman setiap hari dengan menggunakan metode tradisional, yaitu dengan menimba air dari sumur lalu di semprotkan. Oleh karena itu, Setelah analisis masalah yang diungkapkan, kami merancang inovasi bernama "SI-Tani" yang bertujuan memberikan kemudahan kepada kelompok petani melalui teknologi digital berbasis IoT. Proses implementasi melibatkan langkah-langkah seperti perakitan gardu listrik panel surya, pembuatan bahasa pemrograman khusus untuk mengontrol sistem, simulasi penggunaan sistem sebelum implementasi, dan persiapan teknis untuk implementasi langsung.Hasil dari ide inovasi ini adalah pembuatan sistem SI-Tani yang mampu mengontrol dan memantau pertumbuhan tanaman secara efisien. Implementasi proyek ini telah memberikan manfaat yang signifikan bagi masyarakat Desa Tarengge dan sekitarnya. Sebagai contoh, peningkatan produksi pertanian telah membantu mengatasi kekurangan pangan di tingkat desa, meningkatkan pendapatan petani, dan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia yang mahal. Kolaborasi erat dengan sesama anggota tim, dosen pendamping, pihak kampus, dan masyarakat setempat telah menjadi kunci kesuksesan implementasi proyek. Kerjasama ini meliputi pemahaman mendalam tentang kebutuhan masyarakat, pengembangan teknologi, serta pendampingan dan pelatihan untuk penggunaan sistem oleh petani.Proyek SI-Tani memiliki peluang keberlanjutan yang tinggi, dengan estimasi masa pakai sistem hingga 5 tahun atau lebih. Dengan dukungan yang berkelanjutan dari pemerintah daerah, organisasi non- profit, dan masyarakat, proyek ini dapat terus memberikan manfaat bagi pertanian lokal dan meningkatkan kesejahteraan petani dalam jangka panjang.